Showing posts with label prosa. Show all posts
Showing posts with label prosa. Show all posts

https://id.pinterest.com/pin/494833077781277948/

Loving you was like the amber of morning rays, came through those triangle windows in the kitchen filled with aroma of morning coffee.  A cup of your favorite black coffee and a cup of mine,  cappuccino. It never served without baked croissants nor almond brownie i cooked. Instead of watering the plants, you clinged to me like a glue while i was busy with the kitchen stuff.

It was nice when you put your head on my shoulder. It felt like you were sharing the burden you've tried to carry alone. The next routine, we drank our coffee with bliss.
We talked a lot of things like a silly joke you watched last night, my failed new recipe, a stripes bow tie your father gave you, a powder on my pink floral apron, a bunch of dark chocolates you would like to buy me, and how you loved the smells of the sea.

Morning was always our best 'us time'. 
The rays have always been shining the backyard of our house, shimmering the wild flowers we picked then planted it between the unpretentious dandelions.

Falling leaves
Falling down
Humming, humming, humming
Dancing with the blow of naked wind

Falling leaves
Falling down
Running, running, running
Swallowing pain through the mountain

Falling leaves
Falling down
Hanging, hanging, hanging
Waiting for tomorrow rays of sun

Falling leaves
Falling down
Spelling, spelling, spelling
over
Would you come?







On winding road
And
a generous night,
You drove me slowly 
by millions constellations


Then i realized,
When my eyes
met yours,
i was drowning
in a deep blue sea of 
your mind.


(At their office, one fine sunny day)
      Ingatkah kamu, buku apa yang pertama kali kamu baca? Aku tidak. Rasanya itu seperti buku dongeng para hewan atau dongeng putri negeri khayalan. Atau bisa juga buku teks PPKN yang sekolah pinjamkan di SD atau novel remaja kakakku yang diam-diam aku curi baca di kamarnya ketika ia belum pulang sekolah. Aku tidak ingat sama sekali persisnya.
Aku duduk seharian beberapa hari belakangan menghadap monitor laptop yang putih atau kertas kosong berjam-berjam dan tidak bisa menulis apa-apa. Aku—yang sudah menulis sejak aku mulai mengenal huruf dan tidak pernah berhenti sejak saat itu—tiba-tiba merasa kering.
      Semua cara sudah kucoba untuk menggali ide yang entah kemana perginya. Musik? Gagal. Jalan-jalan? Tidak berhasil. Film? Nihil. Mengobrol bersama teman? Apapun yang mereka katakan, cuma monitor dan kertas kosong itu yang berputar-putar dalam kepalaku.
Orang bilang jika kamu merasa tersesat dan tak tahu arah, kembalilah ke tempat kamu memulainya. So I took a time out. Aku berusaha mengingat-ingat kali pertama aku mulai menulis dan membaca; tulisan pertamaku dan buku pertamaku. Keduanya adalah apa yang membuatku menulis hingga sekarang. Jadi aku mencoba berjalan ke belakang untuk melihat apa saja yang sudah kulalui dan apa yang kulewatkan.
      Aku ingat tulisan pertamaku—yang lengkap dan tampak seperti sebuah cerita utuh dari pada coretan-coretan sekalimat, dua—meski aku tidak lagi menyimpannya. It was a short story about a woodcutter who fell into a river stream and met a talking salmon who was on its migration and gone astray from its pack. I was 7 when I wrote that. Tapi buku pertama yang kubaca? Aku cuma ingat Harry Potter and The Philosopher’s Stone yang kubaca ketika aku berumur 9 tahun. Padahal aku ingat aku sudah membaca sebuah buku jauh sebelum aku berumur 9. Memoriku rasanya hanya dimulai dari situ.
      Apa yang kulewatkan hingga aku tidak bisa menghasilkan apa-apa seperti ini? Apa yang terjadi padaku sebetulnya sampai aku begitu terpengaruh? Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Namun ketika aku sedang membongkar barang-barang masa kecilku yang ibu simpan di gudang saat mencari buku-buku lamaku, aku menemukan sesuatu. Kamu. Dalam bentuk tulisan yang kusimpan dalam kotak berdebu sejak kamu memutuskan untuk menghilangkan diri dariku dua tahun silam.
      Sekarang aku ingat. Bukan. Bukan buku yang pertama kubaca. Melainkan kamu yang datang tujuh tahun lalu dan menjadi sumber dari segala sumber tulisanku. Aku menulis tentang kamu, karena kamu, dan untuk kamu. Cukup dengan merasakan kamu, aku tahu apa yang harus kutulis. Tulisan tentang kamu tidak pernah rumit. Cuma tentang bagaimana caramu datang, mencintai, dan melakukan banyak hal bersamaku, tentang apa yang kita bicarakan dan kita perdebatkan, apa yang sama-sama kita benci dan kita cintai, apa yang kita rencanakan dan kita kenang. Adamu membuatku menjadi seorang penulis yang lancar.
      Tapi ketika kamu tidak lagi ada, lantas apa lagi yang bisa kutulis?
      Mungkin aku tidak butuh buku pertama yang kubaca atu kembali menyusuri masa lalu. Karena yang kubutuhkan selalu sama. Hanya saja yang kubutuhkan sesungguhnya tidak pernah tahu bahwa aku membutuhkannya begitu rupa.

Hitung sudah berapa mendung yang kita lihat
dan berapa selamat tinggal yang kita coba ucapkan?
Dari sekian hari yang kita diami, berapa kalikah kita ingin pergi?
Lalu lihat bagaimana setiap usaha kita melarikan diri hanya membuat kita tetap tinggal.
Karena kita mengenali ke mana setiap perasaan berpulang.
Karena kita tahu kesalahan bukan untuk dimaafkan atau dimintai maaf, melainkan untuk
dipeluk kuat-kuat sebagaimana kita saling memeluk.


(Pada pagi yang cerah untuk duduk-duduk di rumah, Kamis, 10 Desember ke-lima)
Tak perlu berharap apa-apa selain hujan yang turun berapi-api Desember ini. Cukup tinggal di sini, digulung waktu. @nulisbuku #puisimalam
Cold as ice, warm as spring.

Like two pieces of wool string,

they intertwine and shapeshift you.